24April2018

MutuKia Ntt

NOTULENSI KOORDINASI SH – PML, 4 SEPTEMBER 2014

09.00 – 09.15 Pembukaan dan Penjelasan Tujuan Pertemuan

  1. Prof. Laksono Trisnantoro
    1. SH dimulai tidak mudah karena ada ketidakyakinan untuk menjalankan kegiatan besar seperti ini dengan dana yang besar dan perlu sumber daya yang besar. Untungnya ada RS Mitra A yang bersedia untuk bergabung.
    2. Pada hari ini kita akan membahas best practice yang telah kita dapat selama 4 tahun berlangsungnya SH. Best practice ada yang baik dan ada yang buruk.
    3. SH saat ini sudah diakui Kemenkes
    4. Terima kasih sekali kepada RS besar yang sudah bersedia bergabung selama ini.
  2. Bu Ema Simanjuntak
    1. Sebelum SH ada, sudah ada RSUD di NTT yang sudah melakukan kontrak langsung dengan RS lain seperti Sanglah dana kerja sama ini dilakukan berkat dukungan dana dari APBD
    2. Saat ini Kabupaten Sumba Tengah memberi insentif tertinggi bagi dokter spesialis Rp. 30 – 35 juta
    3. Bila ada advokasi terus menerus ke Pemda maka bukan tidak mungkin kegiatan SH bisa terus berlanjut
    4. Program SH sangat membantu dalam mengatasi keluh kesah pasien. Kadang ada keluarga menitipkan pasien ke Dinkes untuk segera dirawat
  3. Hanevi Djasri
    1. Kegiatan ini akan mereview semua kegiatan yang sudah kita lakukan dalam SH terutama hingga Juni 2014. Juga akan dilaksanakan diskusi kegiatan Juli – Desember 2014.
    2. Sesi diskusi siang adalah membahas jadwal kegiatan Juli – Desember 2014.
    3. Setelah SH berakhir akan ada kegiatan Permata namun belum tentu akan melibatkan AIPMNH dan PKMK FK UGM

09.15 – 10.15 Progress dan Rencana Kegiatan SH – PML Periode Juli – Desember 2014

  1. Hanevi Djasri
    1. Slide Presentasi
    2. PR untuk RS Mitra A: perbaikan manajemen data, memastikan rekomendasi AMP ditindaklanjuti, memastikan ketersediaan data kematian antara RS – Kab, memastikan ketersediaan data lokasi kematian ibu dan bayi di masing-masing kabupaten, memastikan semua rencana tindak lanjut hasil Monev dapat dilaksanakan, sinkronisasi jadwal, dan best practice
    3. Data Kabupaten Non SH kematiannya lebih rendah, dengan alasan: ada kabupaten pemekaran sehingga pencatatan kematian belum baik (sehingga banyak data kematian yang tidak tercatat), dan ada rujukan dari kabupaten Non SH ke kabupaten SH
    4. Di beberapa RSUD terjadi shifting kematian di beberapa RSUD
    5. Dilakukan validasi data ke Kabupaten Ende, Bajawa, Waikabubak, dan Kefamenanu  masih ada ketidaksinkronan antara data kematian di RSUD, Puskesmas dan Dinkes
    6. Sistem rujukan yang dikembangkan di NTT, memberi sumbangsih untuk sistem rujukan di DKI Jakarta
    7. Pelajaran yang kita dapat dari SH  bisa diangkat sebagai tema best practice (slide presentasi)
  2. Ni Luh Putu Eka Andayani
    1. Slide presentasi
    2. PKMK FK UGM sudah memiliki sistem generik untuk billing system dan sudah diinstal di masing-masing RSUD dan sudah diberi pelatihan ke
    3. Kegiatan ke depan: pendampingan pelatihan manajemen aset dan evaluasi hasil pendampingan dan melibatkan stakeholder eksternal
    4. Peta status BLUD: sudah ada 7 RSUD berstatus BLUD
    5. Kendala impelentasi BLUD: alasan kebijakan dan keterbatasan SDM di RSUD, namun paling banyak kendala terjadi di RSUD
  3. Sitti Noor Zaenab
    1. Dalam implementasi manual rujukan, tidak bisa lancar saja, masih ada temuan-temuan masalah
    2. Dari 5 sistem yang ingin disinergikan adalah:
      1. Sistem manajemen: perlu penyusunan SOP-SOP pendukung dan dipatuhi
      2. Sistem pelayanan klinis: perlu refreshing tentang pelayanan klinis di RS maupun Puskesmas
      3. Sistem informasi dan komunikasi: membangun sistem seperti di Flotim (2H2C) yang penting adalah komitmen Dinkes kabupaten
      4. Sistem transportasi: karena perbedaan sarana geografis sudah  perlu advokasi ke Bupati, lintas sektor dan DPRD
      5. Sistem pembiayaan: ... (slide)
    3. Rencana kegiatan selanjutnya:
      1. Pendampingan awal pada bulan Oktober 2014
      2. Pendampingan penyusunan sistem rujukan regional (butuh waktu panjang tergantung komitmen)
      3. Pengembangan tools monitoring implementasi MRMN untuk menjamin implementasi MRMN tetap berjalan walaupun project telah berakhir
  4. Sesi Diskusi:
    1. Kariadi (dr. Bambang)
      1. Ada sesuatu yang harus diperbaharui tentang AMP terkait kebijakan terutama terkait tindak lanjut hasil AMP. Kariadi – Umbu Rara Meha sudah melakukan advokasi untuk tindak lanjut hasil AMP. Kuncinya adalah komitmen untuk tindak lanjut AMP ini. Dari kegiatan AMP dan tindak lanjutnya, perlu sekali melihat pihak-pihak luar yang berperan terhadap kematian ibu dan bayi. Itu juga perlu diperbaiki.
    2. DPC AIPMH Manggarai
      1. Tindak lanjut Manual Rujukan sulit karena di Manggarai ada beberapa kabupaten yang merujuk ke RSUD Ruteng dan tidak tahu kemana rujukan baliknya. Mohon masukan bentuk konkrit, apa yang harus dilakukan RSUD Ruteng untuk masalah ini.
    3. RSAB Harkit (dr. Ilhamy)
      1. Memang RSAB Harkit – Kefamenanu kami akui memiliki kinerja paling rendah. Ini karena adanya hal-hal yang terselubung, misalnya rendahnya partisipasi daerah. Untuk masalah AMP yang belum tersentuh: advokasi ke stakeholder, AMP yang ada tidak ditindaklanjuti (hanya ada dokumen tapi tidak ada tindak lanjut). Langkah selanjutnya adalah AMP yang sebenarnya, tidak hanya di RSUD tapi juga bersama Dinkes Kabupaten Kota sehingga diharapkan ada tindak lanjutnya dalam bentuk dana.
      2. Masalah komitmen Pemda, residen dan ambulans untuk rujukan. Kurang komitmen Pemda sehingga ada masalah sederhana, seperti masalah air yang sudah 3 tahun tidak ada jalan keluarnya. Untuk mutu AMP jalan keluarnya bisa dengan penyediaan residen. Ambulans untuk rujukan juga jadi kendala dalam proses rujukan.
    4. Tanggapan
      1. Hanevi Djasri
        1. AMP, mohon RS Mitra A memfasilitasi AMP di Dinkes Kabupaten pertamanya adalah mengubah SK agar dalam SK bupati, tidak hanya ada nama dan perannya sebagai apa, tetapi juga dalam SK itu ada indeks responsiveness terhadap rekomendasi yang disusun dalam AMP. Selain itu RS Mitra A mohon melakukan supervisi terhadap penyusunan AMP untuk menjamin AMP yang dilaksanakan berjalan lancar. Misalnya laporan hasil AMP dibacakan ulang oleh supervisornya, tidak perlu saat AMP di RS dilakukan skype.
      2. Sitti Noor Zaenab ,Manual rujukan juga tidak mudah dilaksanakan masih banyak kendala yang harus diperbaiki. Ini tidak bisa diselesaikan di tingkat kabupaten dan butuh dukungan dari Provinsi.
      3. Emma Simanjuntak
        1. Untuk Manggarai: Sudah ada Perda no 3 tahun 2014 tentang Manual Rujukan Regional. Namun mungkin ada kendala teknis di lapangan. Saat ini sedang ada proses membuat manual rujukan balik
        2. Untuk RSAB Harkit: harusnya masalah air sudah selesai dari dana APBD. Saat ini RSUD Kefamenanu sedang banyak masalah. Tapi yang perlu dicatat adalah ini bukan salah RSAB tetapi juga masalah kita bersama.

11.00 – 12.00 Diskusi Kelompok: Identifikasi Topik Best Practice SH-PML Dan RTL Untuk Penyusunan Materi Best Practice Untuk Forum Nasional

  1. Ida Trisno
    1. Slide Presentasi
    2. SH saat ini di luaran masih dikenal sebagai program pengiriman residen
    3. Mengisi tabel Diskusi Best Practice
  2. Laksono Trisnantoro
    1. Dalam menyusun Best Practice mohon lihat Grand Desain projek SH
    2. Untuk topik best practice dapat berdasar tujuan kegiatan Clinical Contracting Out di SH:
      1. Pengiriman dokter spesialis
      2. Peningkatan keterampilan teknis staf di rumah sakit
      3. Pelatihan tim tenaga di Puskesmas dalam rangka penguatan siste rujukan kesehatan ibu dan anak
    3. Indikator best practice dalam Clinical Contracting Out (secara general):
      1. Dukungan Pemda (termasuk penganggaran dana dari APBD (prosentase alokasi anggaran))
      2. Terselenggara beberapa kali peningkatan kapasitas
      3. Exit Strategy sudah disiapkan sehingga tidak ada keguncangan dalam pelaksanaan program
    4. Topik-topik best practice (kisah dari masing-masing RSUD)
      1. Model implementasi manual rujukan
      2. Model penilaian/ peer review terkait pelaksanaan program SH
      3. Penggunaan teleconference
    5. Best practice untuk Dinkes Provinsi
      1. Monitoring Evaluasi (Monev)  bisa juga Best Practice untuk PKMK
    6. Usulan Pak Rukmono: topik-topik best practice dibagi menjadi 3 kelompok: yaitu kelompok kelembagaan, kelompok praktek klinis, kelompok manajemen. Nanti tiap2 klasifikasi kelompok kita gali masing-masing. Nanti saat presentasi bisa dalam bentuk animasi (tidak saja dalam bentuk Poster) sehingga lebih powerful dalam penyampaiannya.

12:00-13:00 WIB: Lunch

13:00-14:00 WIB

Setelah makan siang diisi dengan pemaparan beberapa narasumber dan diskusi yaitu :

  1. Sinkronisasi jadwal PKMK Sept-Des 2014 dengan jadwal mitra A (termasuk jadwal monev):
    1. Ada evaluasi menyeluruh tentang kinerja PONEK 24 jam mencakup kualitas PONEK, penilaian kepatuhan terhadap SOP
    2. Monev external akan dilaksanakan dalam rentang I – II November 2014. Karena bila masuk Minggu III November, cuaca mulai buruk
    3. Laporan hasil Monev internal mohon dapat dikumpulkan selambatnya Minggu ke III Oktober 2014
    4. Draft awal best practice harap dikumpulkan pada 11 September 2014 dan finalnya pada 18 September 2014
    5. Laporan Monev eksternal dapat dikumpulkan pada Januari 2014
    6. Pertemuan Evaluasi hasil Monev pada Maret 2014
    7. Tim yang akan diberangkatkan hanya kualitatif dan klinis
  2. Pengantar Penyusunan rencana kegiatan dan anggaran periode Januari-Maret 2015
    Sesi ini di isi oleh presentasi dr. Idawati Trisno, M. Kes yang menyampaikan bahwa selama ini AIPMNH kesulitan mendapatkan data karena datanya tidak sinkron sehingga dilakukan case study di 3 kabupaten dan didapatkan beberapa temuan awal bahwa data jumlah persalinan adalah yang paling akurat, data dari RS sudah direkapitulasi kedalam laporan puskesmas yang dikirimkan ke dinkes dan data kematian ibu dan neonatal juga cukup akurat
  3. Pengantar Penyusunan Laporan akhir
  4. Diskusi Kelompok Mitra A dengan menyusun jadwal kegiatan dan budget September hingga Desember 2014
    Mitra A sudah menyusun jadwal kegiatan atau rencana kegiatan evaluasi sebelum Monev bulan November, menyusun rencana kegiatan dan budget Januari-Maret 2015 dan menyusun rencana penyusunan laporan akhir.
  5. Presentasi hasil diskusi RS mitra A tentang penyusunan jadwal dan detail pada periode Januari-Maret 2015
    1. Slide hasil Presentasi
    2. Sinkronisasi anatar daftar kegiatan dan jadwal pelaksanaan telah disusun atau diusulkan oleh RS Mitra A, AIPMNH, PKMK FK UGM (jadwal kegiatan secara detail akan dikirimkan melalui email atau website)
  6. Closing Remark
    Sesi ini ditutup oleh presentasi dr. Hanevi Djasri sebagai Koordinator SH. Dalam presentasinya beliau menekankan agar kedepannya dapat memanfaatkan sisa program SH dan PML Provinsi NTT untuk memantapkan exit strategi yang memastikan agar PONEK 25 jam dan system pendukung telah tersedia dan berjalan. Selain itu dr. Hanevi juga membahas 7 catatan dari progress SH dan PML yaitu:
    1. Perbaikan manajemen data
    2. Data kematian antara RS dan kabupaten
    3. Data kematian per jenis sarana kesehatan
    4. Adanya Tindak lanjut hasil AMP
    5. Adanya Tindak lanjut hasil monev
    6. Sinkronisasi jadwal (akan dikirimkan melalui email jadwal detailnya)
    7. Best practice.
      Direncanakan akan dibuatkan format policy brief mengenai: Pendampingan capacity building yang konsisten untuk merubah budaya kerja, kegiatan monitoring dan evaluasi berkala untuk meningkatkan kesesuaian penerapan PONEK 24 jam, peningkatan jumlah rujukan maternal sebagai indicator mutu RS, dan policy brief tentang peran kepemimpinan dan manajemen kinerja dalam penurunan jumlah kematian ibu dan bayi di RS.