24April2018

MutuKia Ntt

A. Pengantar

Dalam beberapa tahun terakhir, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia telah menurun cukup tajam. AKI menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, sedangkan AKB menurun dari 35 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014). Meskipun demikian, AKI dan AKB di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih jauh berada di atas angka nasional dan jauh dari target MDGs tahun 2015. Sampai tahun 2007, AKI di NTT 306 per 100.000 kelahiran hidup, dan AKB 57 per 1.000 kelahiran hidup. Jumlah kasus kematian bayi pada 2007 sebanyak 1.159 kematian (Dinas Kesehatan Provinsi NTT, 2008).

Untuk menurunkan AKI dan AKB sekaligus mencapai target yang ditetapkan MDGs di Provinsi NTT, telah banyak dilakukan intervensi program oleh Kementerian Kesehatan RI, maupun Dinas Kesehatan setempat. Meskipun demikian, semua upaya tersebut belum mampu mencapai hasil yang memuaskan. Untuk menurunkan AKI dan AKB diperlukan upaya yang luar biasa, tidak bisa hanya dengan cara-cara seperti yang telah dilakukan selama ini. Oleh karena itu ada kebijakan Revolusi KIA di NTT.

Salah satu kendala utama dalam penurunan AKI dan AKB adalah terbatasnya ketersediaan dokter spesialis obstetric-ginekologi, dokter spesialis kesehatan anak, dan tenaga paramedis pendukung dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, khususnya dalam penanganan kasus gawat darurat kebidanan. Banyak kasus kegawatdaruratan kebidanan akhirnya tidak tertangani sehingga menyebabkan kematian baik ibu dan atau anak karena kelangkaan tenaga kesehatan tersebut.

Upaya untuk merekrut dan mendatangkan tenaga kesehatan tersebut di NTT sampai saat ini belum berhasil sepenuhnya. Sebagai daerah miskin dan tertinggal, NTT bukan merupakan daerah menarik bagi para dokter spesialis, apalagi di tingkat kabupaten.

Didasari, tanpa ketersediaan tenaga kesehatan yang dibutuhkan, mustahil AKI dan AKB dapat diturunkan secara cepat. Dikawatirkan laju penurunan AKI akan terhambat. Kebijakan Revolusi KIA hanya akan menjadi di atas kertas saja.

Berdasarkan pemikiran demikian, dalam jangka pendek diperlukan upaya terobosan luar biasa untuk mendatangkan tenaga kesehatan yang diperlukan untuk memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak khususnya penanganan kegawatdaruratan kebidanan. Dalam hal ini upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan kemitraan dengan rumah sakit di luar NTT melalui inovasi clinical contracting out pengadaan tenaga kesehatan. Sejumlah rumah sakit akan diajak bekerja sama melakukan kontrak dalam jangka waktu tertentu untuk mengirimkan tenaga kesehatan yang dibutuhkan ke RSUD di 9 kabupaten di NTT.

Bersamaan dengan kegiatan tersebut, secara jangka menengah, perlu diupayakan agar NTT dapat secara mandiri menyediakan tenaga kesehatan yang dibutuhkan. Untuk itu dokter umum dari NTT perlu dididik untuk menjadi dokter spesialis melalui pendidikan spesialisasi di berbagai perguruan tinggi mitra. Setelah lulus, para tenaga spesialis akan menggantikan tenaga kontrak dari RS Mitra sehingga pelayanan dapat terus berjalan dengan baik.