24April2018

MutuKia Ntt

Pokok-Pokok Penting Hasil Kegiatan Penguatan Program Sister Hospital

Oleh: Direktur RS dr. Soetomo
di Aula RSUD SoE Kab. TTS
Sabtu, 18 Oktober 2010

Pengantar:

Sejak awal, RS dr. Soetomo (RSDS) telah memiliki konsep sendiri dalam pelaksanaan Program Sister Hospital yang tidak berorientasi jangka pendek (6 bulan) tetapi berorientasi jangka panjang dengan sasaran akhir berupa kemandirian RSUD SoE. Konsep yang diterapkan tersebut melebihi apa yang diharapkan dalam Grand Design.

Memasuki bulan ketiga pelaksanaan program tersebut, aplikasi konsep RSDS menghadapi situasi kritis yang sangat menentukan. Hambatan-hambatan yang ditemui di RSUD SoE menyangkut pemahaman seutuhnya tentang permasalahan rumah sakit, perubahan yang diperlukan dalam manajemen SDM, pentingnya komitmen politis yang tercermin dalam perubahan anggaran dan APBD 2011, dan lain-lain, harus segera di atasi. Jika semua ini tidak diatasi, dikhawatirkan pelaksanaan Program Sister Hospital di RSUD SoE tidak akan berhasil sesuai dengan harapan. Para pemangku kepentingan di TTS mulai dari Bupati, DPRD, Dinas Kesehatan, lintas sektor terkait, dan internal RSUD sendiri, harus sepakat dan berkomitmen untuk mengatasi semua hambatan tersebut.
Mengingat penting dan kritisnya situasi tersebut, Direktur RSDS hadir langsung di RSUD SoE untuk mengadvokasi para pemangku kepentingan agar sepakat dan berkomitmen untuk memecahkan hambatan yang ditemui. Dengan cara presentasi dan diskusi tanya-jawab, advokasi dilakukan dihadapan Bupati TTS, wakil ketua DPRD dan Komisi D (serta anggota dewan lainnya), dan para pemangku kepentingan lainnya di Aula RSUD SoE pada Sabtu 18 Oktober 2010. Advokasi dikemas dalam agenda Penguatan Program Sister Hospital di RSUD SoE.

Pokok-pokok penting dan menarik dari pertemuan tersebut, disajikan dalam Laporan singkat ini.
Tujuan Pertemuan:

  • Untuk memberikan pemahaman seutuhnya dalam permasalahan di RSUD SoE
  • Untuk memperoleh dukungan dan komitmen politik dari Bupati dan DPRD dalam memecahkan masalah di RSUD SoE terkait dengan kebijakan anggaran, SDM, peralatan kesehatan, obat-obatan dan lain-lain
  • Untuk memberikan penyegaran dalam ilmu manajemen rumah sakit.

Tempat
Di Aula RSUD SoE.

Peserta:

  • Bupati Kabupaten TTS
  • Wakil Ketua DPRD
  • Wakil Ketua Komisi D
  • Anggota DPRD
  • Direktur RSUD SoE beserta jajarannya
  • Yang mewakili Ka Dinkes Kab. TTS beserta jajarannya.
  • Lintas Sektor terkait
  • Tim PONEK Reguler RSDS
  • PMPK FK UGM.

Pokok-pokok Penting Hasil Pertemuan:

  1. Konsep Kemitraan versi RS dr Soetomo (RSDS).
    RSDS mempunyai konsep kemitraan secara jangka panjang (tidak hanya 6 bulan) dengan tujuan akhir: RSUD SoE menjadi mandiri baik secara system, SDM, maupun fasilitas dan financial. Gambaran konsep tersebut adalah:
    “Pemberian Bantuan => Pembinaan => memberdayakan => tumbuh berkembang => mandiri (sistem-SDM-fasility-financial)”
    Karena keterbatasan waktu dan biaya dari AIPMNH, RSDS sangat mengharapkan dukungan dan komitmen Bupati dan DPRD TTS serta para pemangku kepentingan lainnya untuk keberlanjutan program kemitraan ini sehingga tercapainya kemandirian RSUD SoE.
  2. Kemitraan dalam Pelayanan, Pendidikan, dan Penelitian
    Dalam melaksanakan kemitraan dengan pihak mana pun, RSDS selalu menawarkan satu paket lengkap yaitu: Pelayanan, Pendidikan, dan Penelitian. Paket ini tentu harus memberikan benefit bagi kedua belah pihak. Paket ini tidak bisa ditawar atau dipilih sebagian.
    Dalam aplikasinya di RSUD SoE, RSDS akan mengembangkan suatu pusat penelitian spesifik TTS atau NTT secara umum. Alternatif yang sudah dipikirkan misalnya penelitian terkait dengan malaria yang banyak diderita penduduk TTS termasuk ibu hamil.
  3. Hal-hal yang perlu mendapat dukungan/komitmen Bupati dan DPRD
    • Pengadaan peralatan kesehatan tertentu yang perlu diakomodir dalam perubahan APBD 2010 dan RAPBD 2011. Peralatan kesehatan penting yang cukup mahal adalah oksigen sentral yang diperkirakan harganya sekitar Rp. 3,8 M.
    • Penyelesaian masalah internal RSUD SoE terkait dengan insentif tambahan sebagai konsekuensi meningkatnya beban kerja akibat adanya program sister hospital; realokasi tenaga dan peralatan kesehatan dari Puskesmas ke RSUD.
    • Perubahan budaya kerja di RSUD.
  4. Akar permasalahan dari sisi RSUD SoE
    Banyaknya permasalahan terkait dengan peralatan kesehatan dan obat-obatan yang muncul dalam Program Sister Hospital ini antara lain karena:
    • Sebelumnya tidak ada dokter spesialis Obgyn, Kesehatan Anak, dan Anastesi yang bertugas di RSUD SoE. Akibatnya tidak pernah muncul kebutuhan peralatan kesehatan dan obat-obatan untuk pelayanan emerjensi obstetric, neonatal, dan anastesi, sehingga semua itu tidak pernah diusulkan pengadaannya. Pada saat Tim PONEK RSDS hadir, kebutuhan peralatan kesehatan dan obat-obatan tersebut menjadi masalah besar.
    • Program Sister Hospital yang dimulai di pertengahan tahun anggaran menyulitkan RSUD SoE untuk memenuhi kebutuhan peralatan kesehatan dan obat-obatan karena tidak dianggarkan sejak awal. Ketentuan keuangan yang berlaku tidak memungkinkan untuk merubah anggaran yang ada secara mendadak.
    • Adanya Tim PONEK RSDS dapat meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, tapi bagi petugas RSUD SoE terkait, program ini menambah beban kerja baik jumlah kegiatan maupun waktunya (24 jam). Penambahan beban kerja ini tidak langsung diimbangi dengan penambahan insentif. Dalam system keuangan pemerintah yang berlaku, perubahan anggaran termasuk penambahan insentif harus melalui mekanisme APBD-P (Perubahan).
  5. Kebijakan nyata yang telah ditempuh Bupati dan DPRD
    • Memutasi sekitar 10 tenaga kesehatan dari sejumlah puskesmas untuk bertugas di RSUD SoE. Tujuannya, untuk mengatasi kekurangan tenaga di RSUD meskipun muncul keberatan dari Kepala Puskesmas terkait.
    • Merealokasi 2 tempat tidur ginekologi (Gyn beds) dari puskesmas ke RSUD SoE.
  6. Usulan solusi dari anggota DPRD
    • Merealokasi satu unit USG di puskesmas yang tidak difungsikan ke RSUD SoE. Tujuannya, untuk mengatasi keterbatasan USG di RSUD SoE.
    • Merealokasi tabung-tabung Oksigen yang tidak dimanfaatkan di puskesmas ke RSUD SoE. Kebutuhan oksigen di RSUD SoE meningkat tajam khususnya untuk pelayanan emerjensi neonatal, sedangkan tabung oksigen yang tersedia di RSUD SoE sangat terbatas.
  7. Penyusunan SOP PONEK dan Formularium Obat
    • Penyusunan SOP dan Formularium Obat diharapkan melibatkan semua pihak terkait sehingga nantinya mereka terikat dengan kesepakatan yang ada.
    • Pihak RSDS akan bertindak sebagai “pengarah” agar substansi SOP dan Formularium Obat yang dibahas tidak menyimpang.
    • Jadi, penyusunan SOP dan Formularium Obat bukan dengan cara meng-copy mentah-mentah apa yang ada di RSDS kemudian diterapkan di RSUD SoE

Lesson Learned:

  1. Adanya keseriusan dan konsistensi pihak RSDS untuk membina dan melakukan kemitraan secara jangka panjang. Kunjungan Direktur RSDS langsung ke RSUP SoE adalah bukti nyata.
  2. Adanya komitmen yang tinggi dari Bupati dan DPRD TTS untuk mendukung Program Sister Hospital di RSUD SoE. Langkah-langkah dan kebijakan yang telah dan akan dilakukan untuk mengatasi hambatan yang terjadi merupakan bukti nyata. Selain itu, kehadiran Bupati dan perwakilan DPRD dalam advokasi Direktur RSDS dari awal sampai akhir merupakan simbolik komitmen yang bisa ditunjukkan.
  3. Adanya Team Leader dan Korlap yang senior, berkomitmen tinggi, dan berpengalaman, serta bersedia tinggal di lokasi, sangat bermanfaat dalam Program Sister Hospital di RSUD SoE.